Social Icons

Pages


Wednesday, June 19, 2013

Surat terbuka buat Presiden RI :)

BUAT BAPAK PRESIDEN
(semoga beliau baca)

Pak Presiden yang baik,
Kelak bila harga BBM naik, dengan gagah dan baik hati konon Bapak akan memberi kami kompensasi

Bapak akan membuat kami
mengantre untuk mendapatkan uang bantuan agar kami tak merasa kesulitan. Tapi, pikiran kami sederhana saja, Pak, benarkah Bapak
suka melihat kami mengantre panjang mengular dari Sabang
sampai Merauke? Kami tidak suka itu, Pak. Kami tak suka terlihat miskin, apalagi menjadi miskin.
Kalau memang Bapak punya uang untuk dibagikan kepada kami,
pakailah uang itu, kami rela
meminjamkannya untuk
menyelamatkan �perekonomian
nasional� yang konon sedang gawat itu.
Tak perlu naikkan BBM,
pakailah uang kami itu: kami rela meminjamkannya untuk
menyelamatkan bangsa!
Hidup kami sederhana, disambung lembaran-lembaran uang recehan.
Ilmu hitung kami kelas rendahan:
berapa untuk makan sehari-hari, uang jajan anak sekolah, biaya
transportasi, biaya listrik bulanan, dan kadang-kadang cicilan motor,
dispenser atau DVD player. Tak perlu kalkulator. Bila sedang beruntung, kami bisa punya sisa uang untuk jalan-jalan di akhir
pekan. Bila sedang sulit, kami tidak kemana-mana, Pak: Kami mencari
kebahagiaan gratisan di televisi meski kadang kadang justru dibuat
pusing dengan berita-berita tentang beberapa anak buah Bapak yang
korupsi.
Bila perlu, berdirilah di hadapan kami, katakan apa yang negara
perlukan dari kami untuk
menyelamatkan kegawatan bencana
ekonomi negara ini? Bila Bapak perlu uang, kami akan menjual ayam, sapi, mesin jahit, jam tangan,
atau apa saja agar terkumpul sejumlah uang untuk melakukan pembangunan dan penyelamatan perekonomian bangsa. Bila Bapak disandra mafia, pejabat-pejabat yang ** SENSOR **, atau pengusaha-
pengusaha yang menghisap rakyat,
tolong beritahu kami: siapa saja mereka? Kami akan bersatu untuk
membantumu melenyapkan mereka.
Tentu saja, semoga Anda bukan salah satu bagian dari mereka!

Pak Presiden yang baik,
Dengarkanlah kami, berdirilah untuk kami, berbicaralah atas nama kami, belalah kami: maka kami akan selalu ada, berdiri, bahkan berlari
mengorbankan apa saja untuk membelamu. Berhentilah berdiri dan berbicara atas nama sejumlah pihak�membela kepentingan-
kepentingan golongan. Berhentilah jadi bagian dari mereka yang ingin
kami benci sampai mati. Jangan jadi penakut, Pak Presiden, jangan jadi
pengecut!
Buanglah kalkulatormu, singkirkan tumpukan kertas di hadapanmu,
lupakan bisikan-bisikan penjilat di sekelilingmu! Lalu dengarkanlah suara kami, tataplah mata kami:
tidak pernah ada satupun pemimpin di atas dunia yang sanggup bertahan
dalam kekuasaannya jika ia terus-menerus menulikan dirinya dari suara-suara rakyatnya!
Pak Presiden, Sekali lagi, tentang kenaikan harga
minyak, barangkali kami memang tak pandai berhitung. Tapi, sungguh,
kami tak perlu menghitung apapun untuk untuk memutuskan mencintai
atau membenci sesuatu; termasuk mencintai atau membencimu!

Postingan menarik lainnya:

0 comments:

Post a Comment

Blog Archive